
Tampilnya timnas Indonesia di ajang pra piala dunia 2014 Brasil, mengundang perhatian dari seluruh rakyat Indonesia. Ketika timnas berhasil mengalahkan Turkmenistan di ajang kualifikasi, semua perhatian rakyat Indonesia langsung tertuju pada anak-anak asuhan Wim Rijsbergen tersebut. Harapan besar tentunya langsung dibebankan oleh rakyat Indonesia di pundak El Loco dkk. Maklum, di beberapa tahun terakhir ini jarang sekali timnas Indonesia bisa mencapai hasil maksimal di kompetisi Internasional. Prestasi teranyar timnas hanya mampu tampil di ajang final AFF CUP 2010. Rakyat Indonesia dipaksa menyaksikan timnas negeri tetangga mengangkat trofi di Indonesia. Alhasil, masyarakatpun kecewa.
Harapan besar muncul ketika timnas berhasil lolos ke babak grup pra piala dunia 2014 Brasil. Meskipun Indonesia berada di dalam grup yang tidak mudah. Dengan penghuni Iran, Bahrain, dan Qatar, harapan timnas untuk lolos ke babak berikutnya cukup tipis. Mengingat kualitas ketiga tim masih berada di atas Indonesia. Hal ini terbukti ketika di pertandingan pertama, Markus Horison dipaksa memungut bola dari gawangnya 3 kali. Indonesia kalah 3-0 di kandang Iran. Di pertandingan kedua, lagi-lagi timnas dipaksa menyerah 0-2 di kandang sendiri oleh Bahrain. Memang harapan timnas untuk lolos masih ada, tetapi berat juga. Setidaknya timnas harus mampu menyapu bersih kemenangan di laga sisa. Atau 3 kemenangan plus 1 kalai hasil imbang untuk menjaga peluang lolos ke babak berikutnya.

Setelah pertandingan kedua melawan Bahrain, mental para pemain timnas seolah sudah hancur. Terlebih ditambah ulah tak sportif para supporter timnas. Memang para supporter kecewa terhadap permaianan timnas yang jauh dari kata baik. Tetapi sebaiknya sebagai supporter yang nasionalis, mereka tidak lantas berbuat anarkis. Sebagai suporter yang benar-benar nasionalis, jika timnasnya sedang bermain dalam kondisi yang kurang baik, suporter harus tetap memberikan dukungan kepada tim pujaannya dengan cara yang sportif, bukan lantas menyalakan petasan atau melempari pemain dengan botol. Peristiwa ini mengundang perhatian FIFA. Hukuman siap menanti timnas Indonesia. Jika hal ini terjadi, ini sangat merugikan timnas Indonesia. Semoga saja hal ini tidak terjadi.
Belum usai masalah suporter, kini muncul isu pergantian komposisi pemain. Sekitar 20-30% pemain timnas bakal dirombak.Hal ini dikarenakan permainan mereka yang kurang enak dilihat di lapangan. Selain itu, sebagian besar pemain timnas adalah ”warisan” dari Alfred Riedl, dan bukan pilihan langsung Wim Rijsbergen. Tentu hal ini akan berpengaruh pada pola permainan yang diterapkan Wim.

Dari banyaknya permasalahan yang menyelimuti kubu timnas Indonesia, sebaiknya para pemain tetap tenang, dan fokus guna menghadapi pertandingan sisa. Mereka harus melupakan segala bentuk permasalahan yang ada di luar mereka. Selain itu, para supporter, dan seluruh rakyat Indonesia juga harus mendukung mereka dalam bentuk yang sportif. Hilangkan corak supporter kedaerahan. Ayo kita sama-sama berkostum merah-putih untuk mendukung tim garuda di pertandingan sisa. Jika hal ini dapat diwujudkan, plus dapat tercipta suasana yang kondusif di tubuh PSSI, bukan hal yang mustahil bagi pasukan Garuda untuk menjadi kampiun di Piala Dunia 2014 yang akan diselenggarakan di Brasil. Bagi para pemain timnas sebaiknya harus tetap menjaga kondisi fisik dan mental untuk mewujudkan hal itu semua. So, tiada kata lain bagi pemain timnas selain mengatakan : “AKU TETAP BANGGA BERKOSTUM TIMNAS INDONESIA”.