TEMAN
Bertemanlah dengan orang yang baik…
Karena berteman dengan orang baik akan banyak manfaatnya…
Jika kamu pandai, ilmumu akan berguna bagi mereka…
Jika kamu kurang pandai, kamu bisa menimba ilmu dari mereka…
Jika mereka kesusahan, keberadaanmu dibutuhkan mereka…
Jika kamu kesusahan, mereka siap menolongmu…
Tapi, janganlah suka berteman dengan orang yang jahat..
Karena banyak keburukannya…
Jika kamu pandai, ilmumu tak akan bermanfaat bagi mereka…
Bahkan, mereka hanya akan menertawakan ilmumu…
Jika kamu bodoh, kamu tidak bisa menggali ilmu dari mereka…
Mereka hanya mengajak bersenang-senang…
Jika kamu jatuh sakit karena bermain dengan mereka, mereka tak peduli…
Mereka bukanlah orang yang pertama menjengukmu di saat kamu sakit…
Tapi, orang yang selalu peduli terhadapmu adalah orang-orang yang baik..
Lantas, jangan jauhi orang yang jahat…
Tetaplah berteman dengan mereka…
Ubah pola pikir mereka…
Ajak mereka dalam kebaikan dan kebenaran…
Ingat, 1 musuh itu lebih berat daripada 1000 teman…
Senin, 14 Februari 2011
AL-QUR’AN DI DADAKU!!!
Published :
18.03
Author :
Agus Tri Wibowo
Tanpa kita sadari, zaman terus berlalu. Mungkin, banyak waktu yang telah kita lalui dengan sia-sia, atau tidak mendapatkan manfaat sama sekali. Semua perbuatan yang telah kita lalui dengan sia-sia, pasti tidak ada manfaatnya dalam kehidupan kita. Apalagi di zaman sekarang ini. Sulit sekali dijumpai orang-orang yang baik, serta pandai memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang positif.
Apa yang menyebabkan waktu kita banyak yang sia-sia??? Jika ditelaah secara mendalam, penyebabnya adalah jauhnya umat Muslim dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, yang sekaligus merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar. Al-Qur’an diturunkan dalam kurun waktu 22 tahun 2bulan 22hari, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara malaikat Jibril.
Lantas, sebagai umat akhir zaman, apakah kita sudah benar-benar memahami isi Al-Qur’an, lalu mengamalkannya?? Ataukah hanya sekedar membacanya??? Atau bahkan menyentuhnya pun jarang???
Hal ini menjadi permasalahan yang besar bagi dunia. Karena segala aturan-aturan hidup di dunia ini telah tercantum dalam Al-Qur’an. Jika seseorang telah mendalami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, otomatis hidupnya akan tentram, karena Al-Qur’an merupakan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pemberi peringatan bagi orang yang kafir.
Bobroknya moral manusia saat ini disebabkan karena saat ini orang-orang lebih suka membaca komik, majalah, koran, bahkan buku-buku pelajaran, daripada membaca kitabullah, Al-Qur’anul Kariim. Coba kita renungkan sejenak. Berapa lama waktu yang kita sisakan dalam sehari untuk mebaca Al-Qur’an??? 1 jamkah??2 jamkah??? Atau malah tidak pernah???.
Tak bisa dimungkiri, Koran, buku-buku pelajaran merupakan kebutuhan bagi kita. Tetapi, jangan pernah lupakan Al-Qur’an. Saat ini Al-Qur’an hamper tak tersentuh di tempat-tempat tertentu. Hal ini jika berangsung terus menerus, akan membuat dunia ini menjadi hancur. Kita sebagai umat akhir zaman, sebenarnya tidak susah untuk menjaga Al-Qur’an. Kita hanya tinggal membaca, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apa susahnya??? Bandingkan dengan zaman Rasulullah dahulu. Para sahabat bersusah payah untuk mempelajari Al-Qur’an setiap hari. Bagaimana dengan kita???
Untuk itu, mari kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan meluangkan waktu kita lebih banyak untuk membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Semua yang ada di dalam Al-Qur’an adalah kebaikan. Sampaikan kebaikan kepada siapapun, walaupun hanya satu ayat. Karena insyaallah jika seseorang mengajak kebaikan kepada orang lain, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala yang sama dengan apa yang diamalkan orang yang diajaknya, tanpa berkurang sedikitpun. Mari kita tanamkan jiwa Al-Qur’an di hati kita, di jantung kita, di setiap waktu kita, dan di dada kita. Kemurnian Al-Qur’an akan dijaga Allah SWT.
Al-Qur’an DI DADAKU!!!!
ALLAHUAKBAR!!!
Apa yang menyebabkan waktu kita banyak yang sia-sia??? Jika ditelaah secara mendalam, penyebabnya adalah jauhnya umat Muslim dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, yang sekaligus merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar. Al-Qur’an diturunkan dalam kurun waktu 22 tahun 2bulan 22hari, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara malaikat Jibril.
Lantas, sebagai umat akhir zaman, apakah kita sudah benar-benar memahami isi Al-Qur’an, lalu mengamalkannya?? Ataukah hanya sekedar membacanya??? Atau bahkan menyentuhnya pun jarang???
Hal ini menjadi permasalahan yang besar bagi dunia. Karena segala aturan-aturan hidup di dunia ini telah tercantum dalam Al-Qur’an. Jika seseorang telah mendalami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, otomatis hidupnya akan tentram, karena Al-Qur’an merupakan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang bertaqwa, dan pemberi peringatan bagi orang yang kafir.
Bobroknya moral manusia saat ini disebabkan karena saat ini orang-orang lebih suka membaca komik, majalah, koran, bahkan buku-buku pelajaran, daripada membaca kitabullah, Al-Qur’anul Kariim. Coba kita renungkan sejenak. Berapa lama waktu yang kita sisakan dalam sehari untuk mebaca Al-Qur’an??? 1 jamkah??2 jamkah??? Atau malah tidak pernah???.
Tak bisa dimungkiri, Koran, buku-buku pelajaran merupakan kebutuhan bagi kita. Tetapi, jangan pernah lupakan Al-Qur’an. Saat ini Al-Qur’an hamper tak tersentuh di tempat-tempat tertentu. Hal ini jika berangsung terus menerus, akan membuat dunia ini menjadi hancur. Kita sebagai umat akhir zaman, sebenarnya tidak susah untuk menjaga Al-Qur’an. Kita hanya tinggal membaca, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apa susahnya??? Bandingkan dengan zaman Rasulullah dahulu. Para sahabat bersusah payah untuk mempelajari Al-Qur’an setiap hari. Bagaimana dengan kita???
Untuk itu, mari kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan meluangkan waktu kita lebih banyak untuk membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Semua yang ada di dalam Al-Qur’an adalah kebaikan. Sampaikan kebaikan kepada siapapun, walaupun hanya satu ayat. Karena insyaallah jika seseorang mengajak kebaikan kepada orang lain, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala yang sama dengan apa yang diamalkan orang yang diajaknya, tanpa berkurang sedikitpun. Mari kita tanamkan jiwa Al-Qur’an di hati kita, di jantung kita, di setiap waktu kita, dan di dada kita. Kemurnian Al-Qur’an akan dijaga Allah SWT.
Al-Qur’an DI DADAKU!!!!
ALLAHUAKBAR!!!
KONSISTENSI DAN LOYALITAS
Published :
18.00
Author :
Agus Tri Wibowo
Organisasi yang baik adalah suatu organisasi yang mampu mempertahankan kekompakan, dan kesolidan anggota kelompoknya. Untuk mencapai hal itu tidaklah mudah. Suatu organisasi di masyarakat sering mendapatkan rintangan ketika akan berkembang. Rintangan bisa datang dari anggota kelompoknya (internal), misalnya ada beberapa anggota kelompok yang berselisih. Selain itu, rintangan juga bisa berasal dari luar (eksternal), misalnya saja organisasi itu tidak diterima di masyarakat.
Hal ini adalah hal yang wajar. Hampir setiap organisasi di dunia ini, suatu saat pasti akan mengalami masalah. Tiada organisasi yang tak pernah dihadapkan pada persoalan. Jika ada, organisasi itu malah terbilang “lucu”. Setiap ingin berkembang, pasti ada rintangan yang harus diselesaikan. Begitulah ciri suatu organisasi.
Namun, tidak lantas kita diam saja dalam menghadapi persoalan yang dihadapi oleh organisasi yang kita ikuti. Kita harus ikut memikirkan jalan keluarnya. Sebenarnya, hanya ada 2 faktor yang bisa membuat suatu organisasi bisa solid, dan bisa mempertahankan eksistensinya di masyarakat. 2 faktor itu adalah konsistensi, dan loyalitas.
Konsistensi itu merupakan landasan yang harus tertanam di dalam pikiran setiap anggota suatu organisasi. Konsistensi berarti seseorang harus tetap ikut dalam organisasi itu dalam keadaan bagaimanapun. Hal ini sangat penting. Karena tak jarang anggota organisasi yang tidak konsisten. Di awal pembentukan organisasi, mereka berjanji akan mengikuti aturan yang berlaku dalam organisasi itu, tetapi ketika sudah mulai berjalan, seseorang terkadang lupa dengan apa yang telah diucapkannya dahulu.
Selain konsistensi, kita harus menanamkan sikap loyalitas dalam diri kita. Sikap loyalitas yaitu sikap setia terhadap suatu organisasi. Jika kita sudah masuk ke dalam suatu organisasi, maka langsung tanamkan sikap untuk selalu berada di organisasi itu. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain! Jangan mudah tergiur dengan uang, atau sesuatu yang lain untuk meninggalkan organisasi kita!
Mulai sekarang, marilah kita pertahankan, dan kita kembangkan konsistensi, dan loyalitas kita terhadap organisasi kita. Mari kita bawa organisasi kita pada kemajuan, dan kesuksesan, bukan kemunduran!!
“INGAT!!! TANPA KITA, MASYARAKAT BISA BERKEMBANG. TETAPI, TANPA MASYARAKAT , KITA TIDAK AKAN BISA BERKEMBANG, UNTUK ITU BERORGANISASILAH!!!
Selamat berorganisasi!!!
Hal ini adalah hal yang wajar. Hampir setiap organisasi di dunia ini, suatu saat pasti akan mengalami masalah. Tiada organisasi yang tak pernah dihadapkan pada persoalan. Jika ada, organisasi itu malah terbilang “lucu”. Setiap ingin berkembang, pasti ada rintangan yang harus diselesaikan. Begitulah ciri suatu organisasi.
Namun, tidak lantas kita diam saja dalam menghadapi persoalan yang dihadapi oleh organisasi yang kita ikuti. Kita harus ikut memikirkan jalan keluarnya. Sebenarnya, hanya ada 2 faktor yang bisa membuat suatu organisasi bisa solid, dan bisa mempertahankan eksistensinya di masyarakat. 2 faktor itu adalah konsistensi, dan loyalitas.
Konsistensi itu merupakan landasan yang harus tertanam di dalam pikiran setiap anggota suatu organisasi. Konsistensi berarti seseorang harus tetap ikut dalam organisasi itu dalam keadaan bagaimanapun. Hal ini sangat penting. Karena tak jarang anggota organisasi yang tidak konsisten. Di awal pembentukan organisasi, mereka berjanji akan mengikuti aturan yang berlaku dalam organisasi itu, tetapi ketika sudah mulai berjalan, seseorang terkadang lupa dengan apa yang telah diucapkannya dahulu.
Selain konsistensi, kita harus menanamkan sikap loyalitas dalam diri kita. Sikap loyalitas yaitu sikap setia terhadap suatu organisasi. Jika kita sudah masuk ke dalam suatu organisasi, maka langsung tanamkan sikap untuk selalu berada di organisasi itu. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain! Jangan mudah tergiur dengan uang, atau sesuatu yang lain untuk meninggalkan organisasi kita!
Mulai sekarang, marilah kita pertahankan, dan kita kembangkan konsistensi, dan loyalitas kita terhadap organisasi kita. Mari kita bawa organisasi kita pada kemajuan, dan kesuksesan, bukan kemunduran!!
“INGAT!!! TANPA KITA, MASYARAKAT BISA BERKEMBANG. TETAPI, TANPA MASYARAKAT , KITA TIDAK AKAN BISA BERKEMBANG, UNTUK ITU BERORGANISASILAH!!!
Selamat berorganisasi!!!
MENCONTOH MASYARAKAT DESA
Published :
17.58
Author :
Agus Tri Wibowo
Adalah sebuah tempat di daerah terpencil, yang kekurangan air, jauh dari kemajuan, dan serba tertinggal. Mungkin itulah pikiran yang ada dalam benak seseorang ketika mendengar kata “desa”. Itu menurut sebagian besar orang saja.
Coba mulai sekarang kita ubah pengertian desa menjadi suatu tempat yang luas, indah, kaya akan sumber daya alam, yang lengkap dengan udara segarnya. Sebenarnya itulah pengertian desa yang benar(karna sya orang desa hhe..). Berbeda dengan pendapat masyarakat pada umumnya, yang lebih suka tinggal di perkotaan daripada di pedesaan, menurut saya desa adalah tempat yang nyaman untuk ditempati.
Sudah saatnya kita bersikap seperti masyarakat desa (bagi yang belumm). Apa yang perlu dicontoh dari masyarakat desa??? Buanyaak sekali hal yang harus kita pelajari dari masyarakat desa. Yang pertama berkaitan dengan kekerabatan. Di kota, jarang sekali kita bergaul dengan tetangga kita setiap hari. Jangankan bergaul, bertemu saja jarang.Orang-orang kota cenderung mengutamakan pekerjaan mereka masing-masing, atau menyibukkan diri mereka untuk pergi ke suatu tempat, daripada berkunjung ke rumah tetangganya. Lebih-lebih bagi orang kaya, yang status sosialnya tinggi. Mereka seolah-olah bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tak mau berbaur dengan orang yang status sosialnya lebih rendah (takut turun derajatnyaa kale:p>*%)(jangan marah, tidak smua orang kota kaya gini). Lain kota, lain pula desa. Di desa, kehidupan masyarakatnya sangat rapat, atau saling pengertian antara satu dengan yang lain. Setiap hari jarang tidak ketemu dengan tetangga, meskipun hanya sebentar. Meskipun jarak rumah agak jauh, masyarakat desa cenderung “berani” mengorbankan waktunya untuk saling berkunjung ke rumah tetangganya, meskipun hanya untuk bermain (tak peduli tua atau muda). Hal inilah yang membuat orang-orang desa mempunyai jiwa dan perasaan yang lebih peka, dan halus terhadap orang lain. Hal ini akan memunculkan solidaritas yang tinggi di antara masyarakat.
Yang kedua adalah pola hidup yang sederhana. Masyarakat desa cenderung hidup dengan cara yang sederhana . EEIttzz..sederhana bukan berarti tak mampu lho..Masyarakat yang sederhana ialah masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menghadapi kehidupan yang serba “mewah” saat ini. Misalnya jika ada orang desa yang kaya, mereka cenderung hidup seperti masyarakat lainnya, dan mengutamakan berbagi kepada tetangganya, daripada untuk bersenang-senang dengan keluarganya. Hal ini tentu jauuuh dari masyarakat kota yang cenderung untuk hidup bermewah-mewahan.
Yang ketiga adalah perhatian dan kebersamaan yang tinggi. Di desa, rasa perhatian terhadap tetangga sangatlah tinggi. Hal ini dikarenakan “saking” dekatnya mereka terhadap tetangga. Bahkan sampai ada yang tahu seluruh jadwal kegiatan kita dalam sehari. Misalnya jam 8 pagi kita masih sekolah, jam 2 baru pulang sekolah, lalu jam 4 sore kita les, dan masih banyak lagi. Hal ini yang membuat seseorang yang mencari orang lain di desa lebih mudah, saat orang yang dicari sedang tidak ada di rumah. Karena biasanya tetangga yang berada di sekitar kita memberitahu dimana kita sedang berada, saat orang lain datang ke rumah kita. Selain perhatian, ada juga
kebersamaan. Di desa, orang-orangnya cenderung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan bersama-sama. Misalnya kerja bakti untuk membersihkan jalan. Selain itu, ada juga kebiasaan untuk berbagi di saat orang sedang memasak misalnya. Pasti tetangga sebelahnya “kecipratan” hasil masakannya, meskipun sedikit (namanya aj kecipratan).
Sebenarnya masih banyak lagi sesuatu yang harus kita pelajari dari masyarakat desa. Tetapi intinya adalah ketiga hal yang telah saya sebutkan tadi. Masyarakat desa adalah masyarakat yang mampu memaksimalkan potensinya dengan segala kesederhanaannya, dilandasi dengan kepedulian terhadap sesama. Mari kita contoh perilaku masyarakat desa untuk membawa Negara kita ini pada kemajuan.
Coba mulai sekarang kita ubah pengertian desa menjadi suatu tempat yang luas, indah, kaya akan sumber daya alam, yang lengkap dengan udara segarnya. Sebenarnya itulah pengertian desa yang benar(karna sya orang desa hhe..). Berbeda dengan pendapat masyarakat pada umumnya, yang lebih suka tinggal di perkotaan daripada di pedesaan, menurut saya desa adalah tempat yang nyaman untuk ditempati.
Sudah saatnya kita bersikap seperti masyarakat desa (bagi yang belumm). Apa yang perlu dicontoh dari masyarakat desa??? Buanyaak sekali hal yang harus kita pelajari dari masyarakat desa. Yang pertama berkaitan dengan kekerabatan. Di kota, jarang sekali kita bergaul dengan tetangga kita setiap hari. Jangankan bergaul, bertemu saja jarang.Orang-orang kota cenderung mengutamakan pekerjaan mereka masing-masing, atau menyibukkan diri mereka untuk pergi ke suatu tempat, daripada berkunjung ke rumah tetangganya. Lebih-lebih bagi orang kaya, yang status sosialnya tinggi. Mereka seolah-olah bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tak mau berbaur dengan orang yang status sosialnya lebih rendah (takut turun derajatnyaa kale:p>*%)(jangan marah, tidak smua orang kota kaya gini). Lain kota, lain pula desa. Di desa, kehidupan masyarakatnya sangat rapat, atau saling pengertian antara satu dengan yang lain. Setiap hari jarang tidak ketemu dengan tetangga, meskipun hanya sebentar. Meskipun jarak rumah agak jauh, masyarakat desa cenderung “berani” mengorbankan waktunya untuk saling berkunjung ke rumah tetangganya, meskipun hanya untuk bermain (tak peduli tua atau muda). Hal inilah yang membuat orang-orang desa mempunyai jiwa dan perasaan yang lebih peka, dan halus terhadap orang lain. Hal ini akan memunculkan solidaritas yang tinggi di antara masyarakat.
Yang kedua adalah pola hidup yang sederhana. Masyarakat desa cenderung hidup dengan cara yang sederhana . EEIttzz..sederhana bukan berarti tak mampu lho..Masyarakat yang sederhana ialah masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menghadapi kehidupan yang serba “mewah” saat ini. Misalnya jika ada orang desa yang kaya, mereka cenderung hidup seperti masyarakat lainnya, dan mengutamakan berbagi kepada tetangganya, daripada untuk bersenang-senang dengan keluarganya. Hal ini tentu jauuuh dari masyarakat kota yang cenderung untuk hidup bermewah-mewahan.
Yang ketiga adalah perhatian dan kebersamaan yang tinggi. Di desa, rasa perhatian terhadap tetangga sangatlah tinggi. Hal ini dikarenakan “saking” dekatnya mereka terhadap tetangga. Bahkan sampai ada yang tahu seluruh jadwal kegiatan kita dalam sehari. Misalnya jam 8 pagi kita masih sekolah, jam 2 baru pulang sekolah, lalu jam 4 sore kita les, dan masih banyak lagi. Hal ini yang membuat seseorang yang mencari orang lain di desa lebih mudah, saat orang yang dicari sedang tidak ada di rumah. Karena biasanya tetangga yang berada di sekitar kita memberitahu dimana kita sedang berada, saat orang lain datang ke rumah kita. Selain perhatian, ada juga
kebersamaan. Di desa, orang-orangnya cenderung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan bersama-sama. Misalnya kerja bakti untuk membersihkan jalan. Selain itu, ada juga kebiasaan untuk berbagi di saat orang sedang memasak misalnya. Pasti tetangga sebelahnya “kecipratan” hasil masakannya, meskipun sedikit (namanya aj kecipratan).
Sebenarnya masih banyak lagi sesuatu yang harus kita pelajari dari masyarakat desa. Tetapi intinya adalah ketiga hal yang telah saya sebutkan tadi. Masyarakat desa adalah masyarakat yang mampu memaksimalkan potensinya dengan segala kesederhanaannya, dilandasi dengan kepedulian terhadap sesama. Mari kita contoh perilaku masyarakat desa untuk membawa Negara kita ini pada kemajuan.
BELAJAR LEWAT FILM
Published :
17.56
Author :
Agus Tri Wibowo
Belajar adalah kewajiban setiap orang. Mulai dari lahir, sampai akhir hayat, manusia diwajibkan untuk belajar, atau menuntut ilmu. Ilmu sangat bermanfaat bagi manusia. Manusia tak bisa hidup tanpa ilmu. Manusia memulai hidupnya dengan belajar. Belajar makan, naik sepeda, memakai baju, dll. Belajar tidak harus diartikan dengan membaca buku. Hal ini yang menjadi penyebab seseorang menjadi malas belajar. Kebanyakan masyarakat, mengidentikkan belajar dengan membaca buku. Sehingga mereka malas belajar.
Pelajar sekarang, jika sudah mendengar kata “buku”, mereka langsung merasa demam (termasuk saya)(tidak semua lo):-p. Padahal, setiap pelajar membutuhkan buku untuk menambah wawasan, dan pengetahuan mereka. Hampir di setiap sekolah disediakan fasilitas perpustakaan, tetapi, “hampir” juga tidak ada peminatnya. Coba saja, lakukan survey di salah satu sekolah pada saat jam istirahat. Bandingkan jumlah siswa yang ada di perpustakaan, dan siswa yang ada di kantin. Banyakan mana jumlahnya??silahakan buktikan sendiri jika ada waktu luang!!
Jika kamu/anda/you/tu/panjenengan(silakan pilih sendiri) malas belajar hanya dengan membaca buku, kamu/anda/you/tu/panjenengan(pilih lagi) bisa belajar lewat film. Banyak hal yang bisa kita pelajari lewat film. Misalnya, kita bisa meniru tingkah laku tokohnya (yang baik-baik saja tentunya), lalu mempelajari kebudayaannya (jika film berasal dari daerah lain), dan yang paling penting kita bisa mengambil pelajaran dari film itu.
Banyak film di Indonesia (promosi) yang layak dijadikan media untuk belajar. Kita bisa belajar sejarah lewat film “Darah Garuda Merah Putih”. Kita bisa belajar sepak bola dengan “Garuda di Dadaku”, atau mau melihat fenomena “lucu” di suatu Negara?? Kita bisa lihat “Alangkah Lucunya Negeri Ini”, yang berisi kritikan terhadap “fenomena aneh” yang terjadi di suatu Negara. Selain itu, masih buanyaak lagi film-film Indonesia yang layak dijadikan media pembelajaran.
Nah, jadi mulai sekarang, kita ubah paradigma masyarakat yang menyebutkan kalau belajar itu hanya dapat dilakukan dengan membaca buku. Kita bisa belajar lewat sebuah film, lalu mengambil pelajarannya. Bahkan, belajar lewat film akan lebih mudah “masuk”, dan tersimpan lama di memori otak kita, daripada belajar secara konvensional (dengan buku). Silahkan buktikan sndiri!!
“HARI INI TIDAK AKAN ADA GUNANYA JIKA KITA TIDAK MAMPU MENAMBAH SESUATU YANG BERMANFAAT BAGI KITA, DAN ORANG LAIN”
Selamat belajar lewat film!!!
Pelajar sekarang, jika sudah mendengar kata “buku”, mereka langsung merasa demam (termasuk saya)(tidak semua lo):-p. Padahal, setiap pelajar membutuhkan buku untuk menambah wawasan, dan pengetahuan mereka. Hampir di setiap sekolah disediakan fasilitas perpustakaan, tetapi, “hampir” juga tidak ada peminatnya. Coba saja, lakukan survey di salah satu sekolah pada saat jam istirahat. Bandingkan jumlah siswa yang ada di perpustakaan, dan siswa yang ada di kantin. Banyakan mana jumlahnya??silahakan buktikan sendiri jika ada waktu luang!!
Jika kamu/anda/you/tu/panjenengan(silakan pilih sendiri) malas belajar hanya dengan membaca buku, kamu/anda/you/tu/panjenengan(pilih lagi) bisa belajar lewat film. Banyak hal yang bisa kita pelajari lewat film. Misalnya, kita bisa meniru tingkah laku tokohnya (yang baik-baik saja tentunya), lalu mempelajari kebudayaannya (jika film berasal dari daerah lain), dan yang paling penting kita bisa mengambil pelajaran dari film itu.
Banyak film di Indonesia (promosi) yang layak dijadikan media untuk belajar. Kita bisa belajar sejarah lewat film “Darah Garuda Merah Putih”. Kita bisa belajar sepak bola dengan “Garuda di Dadaku”, atau mau melihat fenomena “lucu” di suatu Negara?? Kita bisa lihat “Alangkah Lucunya Negeri Ini”, yang berisi kritikan terhadap “fenomena aneh” yang terjadi di suatu Negara. Selain itu, masih buanyaak lagi film-film Indonesia yang layak dijadikan media pembelajaran.
Nah, jadi mulai sekarang, kita ubah paradigma masyarakat yang menyebutkan kalau belajar itu hanya dapat dilakukan dengan membaca buku. Kita bisa belajar lewat sebuah film, lalu mengambil pelajarannya. Bahkan, belajar lewat film akan lebih mudah “masuk”, dan tersimpan lama di memori otak kita, daripada belajar secara konvensional (dengan buku). Silahkan buktikan sndiri!!
“HARI INI TIDAK AKAN ADA GUNANYA JIKA KITA TIDAK MAMPU MENAMBAH SESUATU YANG BERMANFAAT BAGI KITA, DAN ORANG LAIN”
Selamat belajar lewat film!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
profil.Qu
- Agus Tri Wibowo
- Klaten ae.., Jawa Tengah, Indonesia
follOWerrs
Categories
- artikel bola (7)
- artikel pendidikan (1)
- free artikel (4)
- ISLAM (3)
- Just for Indonesia (7)
- MU (1)
- PMR (1)
Labels
- artikel bola (7)
- artikel pendidikan (1)
- free artikel (4)
- ISLAM (3)
- Just for Indonesia (7)
- MU (1)
- PMR (1)